SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Kajian Tafsir ke-80 pada Sabtu (31/1), membahas lanjutan Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 113–123. Kajian yang menghadirkan Ustadz Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I. ini menegaskan pentingnya menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan pedoman hidup yang nyata dalam perilaku sehari-hari.
Dalam pemaparannya, ustadz Ainur mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada formalitas membaca Al-Qur’an tanpa menghadirkan nilai-nilainya dalam tindakan. “Jangan sampai kita membaca Al-Qur’an, tetapi perilaku kita justru jauh dari Al-Qur’an. Jangan sampai Al-Qur’an hanya berhenti di tenggorokan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa Al-Qur’an harus menjadi landasan hidup, bukan hanya dilantunkan atau dihafalkan. Seorang Muslim, lanjutnya, seharusnya mencerminkan ajaran Al-Qur’an dalam sikap, akhlak, dan keputusan hidupnya. Iman yang benar akan tampak dalam amal saleh dan konsistensi menjalankan syariat Allah.
Memasuki pembahasan ayat 117, ustadz Ainur menjelaskan konsep badi’us-samawati wal-ardl, yakni Allah sebagai Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya. Allah menciptakan segala sesuatu secara unik dan tanpa membutuhkan bahan atau model terdahulu. Hal ini menunjukkan kemahakuasaan dan kesempurnaan-Nya.
Ia juga mengulas konsep “Kun fayakun” — jika Allah menghendaki sesuatu, cukup dengan berfirman “Jadilah,” maka terjadilah. Konsep ini menegaskan bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah. Segala sesuatu berada di bawah kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya.

Ayat ini sekaligus menjadi bantahan terhadap klaim sebagian Yahudi dan Nasrani yang menuduh Allah memiliki anak. “Bagaimana mungkin Allah beranak, sementara seluruh alam semesta adalah ciptaan-Nya dan tunduk sebagai hamba kepada-Nya?” jelasnya. Allah Mahasuci dari sifat-sifat yang menyerupai makhluk.
Lebih lanjut, dalam ayat-ayat tersebut ditegaskan bahwa petunjuk Allah adalah satu-satunya kebenaran. Perselisihan dan klaim kebenaran dari Ahli Kitab tidak menjadi tolok ukur keselamatan. Keselamatan di akhirat ditentukan oleh iman dan amal saleh, bukan oleh fanatisme golongan. Pada hari kiamat, tidak ada syafaat maupun tebusan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran.
Kajian ini juga menjadi penguat bagi Nabi Muhammad SAW dan umat Islam agar tidak bersedih atas berbagai tuduhan dan penolakan terhadap risalah Islam. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan kebenaran yang datang dari-Nya tidak akan pernah goyah oleh klaim manusia.
Melalui Kajian Tafsir ke-80 ini, peserta diajak untuk merefleksikan kembali hubungan mereka dengan Al-Qur’an—bukan sekadar membacanya, tetapi menghidupkannya dalam setiap aspek kehidupan.



