Pembukaan Baitul Arqam Kloter 11

Pembukaan BA Kloter 11

Oleh Bp. Nurgiyatna S.T., M.Sc., Ph.D.

"Cintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri"

Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Islam

Dalam Islam, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Ini tercermin dalam ayat Al-Qur’an (Al-Baqarah: 30) ketika Tuhan berfirman kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Para malaikat bertanya mengapa Allah akan menjadikan makhluk yang cenderung merusak dan menumpahkan darah, sementara mereka, para malaikat, senantiasa bertasbih dan menyucikan nama-Nya. Allah menjawab bahwa Dia mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Manusia sebagai Khalifah dan Aktivitas dalam Kehidupan Sehari-hari

Meskipun tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah, aktivitas sehari-hari seperti belajar, bepergian, dan lainnya bukanlah halangan. Namun, pertanggungjawaban manusia nantinya akan bergantung pada niatnya. Aktivitas apa pun dapat dijadikan ibadah asalkan dilakukan dengan niat ikhlas dan dengan tujuan mencari keridhaan Allah. Seluruh aspek kehidupan dapat disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam, dan aktivitas sehari-hari dapat dijalani dengan niat ibadah, baik itu maghdoh (sesuai tuntunan) atau ghairu maghdoh (misalnya, olahraga, makan, bekerja), selama prinsip-prinsip Islam dipatuhi, seperti menutup aurat, waktu sholat, dan menghindari perbuatan buruk seperti ghibah.

Kepemimpinan dalam Islam

Setiap individu dianggap sebagai pemimpin, terutama dalam hal memimpin diri sendiri. Tanggung jawab ini juga mencakup peduli terhadap lingkungan dan masyarakat. Seorang mukmin tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap dunia dan lingkungannya. Dunia dilihat sebagai amanah dari Allah yang harus dikelola dengan baik.

Sebagai khalifah di bumi, setiap individu bertanggung jawab untuk memperbaiki keadaan yang tidak benar dengan tangan dan lisan. Ini mencerminkan konsep tanggung jawab sosial dalam Islam, dimana kita harus berupaya menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik.

Pemimpin yang baik dalam Islam harus bersikap tawadhu (kerendahan hati). Sikap sombong adalah sesuatu yang perlu dihindari, karena dapat merusak karakter yang baik. Tawadhu adalah pondasi bagi sifat-sifat lain yang baik.

Meremehkan orang lain adalah tindakan yang tidak dianjurkan dalam Islam. Kita harus menghormati semua individu tanpa memandang status sosial, ekonomi, atau etnis mereka.

Kepemimpinan dalam Islam harus mencakup sifat-sifat Islami seperti keadilan, kebijaksanaan, dan ketegasan dalam menjalankan tugas.

Sifat sombong harus dihindari, sekecil apa pun. Kepemimpinan yang baik harus selalu dijalankan dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa Allah adalah sumber segala daya dan kekuatan.

Akhlak Mulia

Islam mendorong akhlak mulia seperti cinta dan kasih sayang. Prinsip “Cintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri” menjadi pedoman dalam berinteraksi dengan sesama. Doa-doa untuk orang lain juga dianjurkan, karena mereka dapat mendatangkan berkah dan kebaikan. Bahkan Mendoakan sesama muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang didoakan akan diaminkan malaikat

Aqidah dan Pencarian Ilmu

Penguatan aqidah dan pencarian ilmu sangat penting dalam Islam. Belajar dan berdiskusi dengan teman adalah cara untuk memperdalam keyakinan dan pemahaman agama.

Kesimpulan:

Dalam Islam, tujuan utama manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun, aktivitas sehari-hari dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat ikhlas dan kesadaran akan kehadiran Allah. Tanggung jawab sebagai khalifah mencakup kepemimpinan dalam hidup pribadi dan hubungan dengan lingkungan serta pemeliharaan akhlak mulia. Pencarian ilmu dan penguatan aqidah juga menjadi bagian penting dari tugas manusia sebagai khalifah.

Scroll to Top