Pendidikan Berkemajuan di Era AI Harus Tetap Berakar pada Nilai, Ilmu, dan Karakter

Surakarta — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Webinar Series sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Webinar yang berlangsung secara daring pada Rabu (29/7/2026) ini menghadirkan Ust. Prof. Suyanto, M.Ed., Ph.D., Dewan Pakar Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan tema “Transformasi Pendidikan Berkemajuan di Era Artificial Intelligence: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berdaya Saing Global.”

Dalam pemaparannya, Prof. Suyanto menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak dapat dimaknai sekadar sebagai digitalisasi atau penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, transformasi yang sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir, cara belajar, serta cara mengelola pendidikan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia menjelaskan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai sarana untuk memperkuat peran pendidik, bukan menggantikannya. Guru dan dosen tetap menjadi sosok utama yang membentuk karakter, membimbing proses belajar, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik. Oleh karena itu, penggunaan AI harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar mempermudah pekerjaan.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto mengingatkan bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan lagi terletak pada keterbatasan informasi, melainkan pada kedangkalan pemahaman. Banyak peserta didik yang hanya menerima dan mengulang informasi tanpa dilatih untuk bertanya, bernalar, mengaplikasikan, maupun melakukan refleksi. Di sisi lain, kemajuan teknologi juga berpotensi menjadi jalan pintas yang justru mengurangi kemampuan berpikir kritis apabila tidak dimanfaatkan secara bijaksana.

Menurutnya, perubahan tersebut menuntut lembaga pendidikan untuk bertransformasi. AI telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, menghasilkan karya, hingga menyelesaikan berbagai persoalan. Dunia kerja masa depan membutuhkan individu yang mampu belajar sepanjang hayat, berkolaborasi lintas disiplin, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dan adaptif. Karena itu, pendidikan harus mampu memimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Dalam konteks Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah, Prof. Suyanto menekankan bahwa kemajuan tidak boleh menghilangkan fondasi nilai. Pendidikan harus tetap berakar pada adab, iman, amanah, serta tanggung jawab sosial. Di saat yang sama, pendidikan juga harus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, serta berorientasi pada inovasi dan daya saing global.

Ia menggambarkan bahwa generasi yang ingin dibangun adalah generasi yang memiliki tiga kualitas utama, yakni berkarakter, berilmu, dan berdaya saing global. Karakter diwujudkan melalui kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian. Sementara itu, aspek keilmuan tercermin dari kemampuan memahami, menalar, meneliti, mencipta, serta melakukan refleksi. Adapun daya saing global diwujudkan melalui kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, berkolaborasi, produktif, dan inovatif.

Prof. Suyanto juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma pembelajaran. Proses pendidikan tidak lagi berorientasi pada transfer pengetahuan semata, melainkan pada pembelajaran yang mendalam sehingga peserta didik mampu memahami makna, menghasilkan karya, dan menyelesaikan persoalan nyata. Dalam paradigma baru ini, AI berfungsi memperluas ruang eksplorasi peserta didik, sementara proses berpikir tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Agar transformasi tersebut berjalan efektif, peserta didik perlu dibekali literasi AI secara menyeluruh. Literasi itu mencakup kemampuan memahami cara kerja AI beserta manfaat dan keterbatasannya, menggunakan AI untuk menyusun dan mengevaluasi hasil kerja, memverifikasi informasi dari berbagai sumber, menghasilkan karya yang orisinal, serta menjunjung tinggi etika, integritas akademik, hak cipta, dan perlindungan privasi.

Selain itu, keberhasilan transformasi pendidikan tidak dapat dicapai hanya oleh guru atau dosen. Prof. Suyanto menegaskan perlunya membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan sekolah maupun perguruan tinggi, keluarga, masyarakat, dunia industri, serta berbagai mitra strategis. Kolaborasi tersebut diperlukan agar AI benar-benar menjadi instrumen pemerataan mutu pendidikan, bukan justru memperlebar kesenjangan akses dan kualitas.

Dalam aspek evaluasi pembelajaran, ia mendorong penerapan asesmen yang lebih autentik. Penilaian tidak lagi berfokus pada jawaban akhir, tetapi juga memperhatikan proses berpikir, argumentasi, kolaborasi, refleksi, serta kemampuan menghasilkan karya nyata. Penggunaan AI dalam proses belajar pun harus dilakukan secara transparan sehingga peserta didik mampu menjelaskan proses, sumber, dan pertimbangan yang digunakan dalam menyusun pekerjaannya.

Menutup pemaparannya, Prof. Suyanto mengingatkan bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah melahirkan generasi yang paling cepat menggunakan AI, melainkan generasi yang paling bijak memanfaatkannya. Menurutnya, kecerdasan buatan akan menjadi kekuatan besar apabila diarahkan untuk memperkuat akal, adab, iman, ilmu pengetahuan, dan daya saing, sehingga pendidikan tetap berorientasi pada pembentukan manusia yang utuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Scroll to Top