Fikih Tata Kelola Muhammadiyah Tegaskan Rekrutmen Amanah sebagai Fondasi Organisasi Berkemajuan

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui Kajian Tarjih Online yang diselenggarakan secara rutin setiap Selasa. Pada Kajian Tarjih ke-230 yang berlangsung melalui Zoom Meeting, Selasa (14/7/2026), Ustadz Yayuli, M.P.I. membawakan tema “Fikih Tata Kelola dalam Perspektif Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Muhammadiyah.” Kajian ini menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang berlandaskan nilai-nilai syariat, profesionalisme, dan integritas.

Dalam pemaparannya, Ustadz Yayuli menjelaskan bahwa Fikih Tata Kelola yang dirumuskan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah merupakan pedoman untuk menghadirkan tata kelola organisasi yang tidak hanya efektif secara manajerial, tetapi juga selaras dengan ajaran Islam. Tata kelola dipahami sebagai implementasi nilai-nilai syariah dalam kepemimpinan dan manajemen organisasi yang menjunjung tinggi amanah, keadilan, transparansi, akuntabilitas, musyawarah, dan profesionalisme.

Salah satu pembahasan utama dalam kajian tersebut adalah pentingnya rekrutmen yang sehat sebagai fondasi tata kelola yang baik. Menurutnya, proses pengisian jabatan harus terbebas dari praktik transaksional, kepentingan pribadi, maupun nepotisme. Jabatan hendaknya diberikan kepada mereka yang memiliki kemampuan sekaligus integritas moral, sehingga organisasi mampu berjalan secara profesional dan tetap menjaga amanah yang dipercayakan.

Prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 26 yang menyebutkan bahwa sebaik-baik orang yang diangkat untuk suatu tugas adalah mereka yang kuat dan dapat dipercaya. Kekuatan dimaknai sebagai kompetensi, kemampuan, dan keahlian, sedangkan sifat dapat dipercaya mencerminkan kejujuran, amanah, serta integritas. Kedua aspek tersebut harus hadir secara bersamaan dalam diri seorang pemimpin maupun pengelola organisasi.

Kajian juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa mengangkat seseorang pada suatu jabatan, padahal terdapat orang lain yang lebih layak dan lebih kompeten, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah, Rasul-Nya, dan umat. Pesan ini menjadi pengingat bahwa setiap proses rekrutmen harus mengedepankan prinsip merit berdasarkan kapasitas dan kredibilitas, bukan karena kedekatan ataupun kepentingan tertentu.

Lebih lanjut, Ustadz Yayuli menjelaskan bahwa Fikih Tata Kelola MTT Muhammadiyah disusun melalui tahapan norma yang sistematis. Dimulai dari nilai-nilai dasar seperti tauhid, keadilan, kemaslahatan umum, dan kejujuran, kemudian diturunkan menjadi asas-asas umum berupa amanah, musyawarah, dan profesionalisme, hingga diwujudkan dalam ketentuan praktis yang mengatur penyelenggaraan organisasi maupun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Dalam implementasinya, tata kelola yang baik dibangun melalui dua dimensi utama. Pertama, kualitas individu yang mencakup amanah, tanggung jawab, keteladanan, serta kepemimpinan yang visioner. Kedua, sistem organisasi yang menjamin adanya akuntabilitas, transparansi, keadilan, dan kemandirian dalam setiap proses pengambilan keputusan maupun pengelolaan lembaga.

Melalui prinsip-prinsip tersebut, Muhammadiyah berupaya memastikan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah tetap berjalan sesuai khittah perjuangan. Pengelolaan institusi, termasuk perguruan tinggi, rumah sakit, dan lembaga sosial, tidak hanya diarahkan pada pencapaian kinerja dan kemandirian organisasi, tetapi juga menjaga orientasi pelayanan kepada masyarakat sebagai bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar.

Kajian ini juga menegaskan bahwa modernisasi tata kelola, termasuk pemanfaatan teknologi digital dalam sistem administrasi dan pengawasan, merupakan bagian dari upaya menghadirkan organisasi yang profesional. Namun demikian, seluruh inovasi tersebut harus tetap berlandaskan nilai itqan, yaitu bekerja secara cermat, berkualitas, cepat, dan bertanggung jawab sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT.

Melalui Kajian Tarjih Online yang diselenggarakan secara rutin, UMS terus mendorong lahirnya budaya organisasi yang tidak hanya unggul dalam aspek manajemen, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Semangat amanah, profesionalisme, serta tata kelola yang berintegritas diharapkan menjadi landasan dalam membangun institusi yang berkemajuan dan memberikan kemanfaatan yang luas bagi umat.

Scroll to Top