SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail sebagai agenda rutin pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan setiap Jumat. Pada pelaksanaan Jumat (12/6/2026), tausiyah disampaikan oleh Prof. Dr. Jati Waskito, S.E., M.Si., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, yang mengangkat tema “Nilai Manusia dalam Pandangan Allah SWT.” Materi menekankan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh ukuran duniawi, melainkan oleh kualitas iman, ketakwaan, dan kebersihan hati.
Dalam tausiyahnya, Prof. Jati menjelaskan bahwa nilai kemanusiaan dalam Islam berakar pada ajaran muamalah, yaitu hubungan antarmanusia yang dibangun di atas kepedulian, kerja sama, dan semangat saling menolong. Islam mengajarkan agar setiap muslim senantiasa berbuat baik kepada sesama tanpa membedakan agama, suku, ras, maupun latar belakang sosial. Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 77 yang memerintahkan manusia untuk mengejar kebahagiaan akhirat tanpa melupakan tanggung jawab di dunia, sekaligus terus menebarkan kebaikan kepada orang lain.
Menurutnya, persoalan paling mendasar yang menentukan keselamatan manusia sejak alam ruh, kehidupan di dunia, hingga hari pembalasan adalah keyakinan kepada Allah SWT. Setiap manusia pada hakikatnya telah bersaksi bahwa Allah adalah Rabb-nya, sehingga keimanan menjadi fondasi utama yang harus dijaga sepanjang kehidupan. Di sisi lain, Allah juga mengilhamkan kepada manusia potensi menuju ketakwaan maupun keburukan. Karena itu, keberuntungan hanya akan diraih oleh mereka yang mampu menyucikan jiwa dan menjaga kebersihan hati dari berbagai penyakit spiritual.
Prof. Jati menegaskan bahwa ukuran keberhasilan menurut Allah berbeda dengan ukuran yang sering digunakan manusia. Harta, jabatan, gelar akademik, maupun popularitas bukanlah penentu kemuliaan seseorang di sisi-Nya. Allah justru memandang hati, keimanan, dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas. Pesan tersebut dipertegas melalui firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, serta hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa maupun harta, tetapi melihat hati dan amal perbuatan manusia.
Dalam kajian tersebut, peserta juga diajak merenungkan bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat ujian. Banyak orang mengukur kesuksesan dari kemewahan materi, padahal orientasi semacam itu dapat membuat manusia lalai terhadap kehidupan akhirat. Prof. Jati mengingatkan agar kaum muslim tidak mudah terpesona oleh gemerlap kehidupan dunia ataupun gaya hidup yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai keimanan. Sebab, apa yang tampak sebagai keberhasilan dunia belum tentu menjadi ukuran keberuntungan di hadapan Allah.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada harta maupun kekuasaan yang mampu menyelamatkan seseorang apabila meninggal dunia tanpa membawa keimanan. Al-Qur’an menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian telah datang dan kesempatan beramal telah berakhir. Pada saat itu, keinginan untuk kembali ke dunia demi memperbaiki diri tidak lagi memiliki makna. Oleh karena itu, setiap muslim harus memanfaatkan kehidupan yang masih diberikan Allah untuk memperkuat iman dan memperbanyak amal saleh sebelum datangnya ajal.
Lebih jauh, Prof. Jati menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi dengan potensi akal dan kemampuan untuk menghadirkan kemaslahatan. Amanah tersebut menuntut setiap muslim agar tidak hanya mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui sikap peduli, adil, dan saling membantu. Nilai kemanusiaan dalam Islam diwujudkan melalui hubungan sosial yang dilandasi kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, dan semangat membangun kehidupan yang lebih baik.
Menutup tausiyahnya, Prof. Jati mengajak peserta menjadikan iman dan ketakwaan sebagai orientasi utama dalam menjalani kehidupan. Dunia tetap perlu diusahakan, namun tidak boleh menggeser tujuan akhir seorang mukmin, yaitu meraih ridha Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa keseimbangan antara ikhtiar dunia dan persiapan akhirat merupakan karakter orang-orang beriman yang tidak dilalaikan oleh urusan pekerjaan maupun harta dari mengingat Allah.
Melalui Qiyamul Lail ini, UMS kembali meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya melahirkan insan profesional, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas spiritual. Penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan diharapkan mampu membentuk dosen dan tenaga kependidikan yang menjadikan iman, ketakwaan, kepedulian sosial, serta akhlak mulia sebagai fondasi utama dalam menjalankan amanah di lingkungan perguruan tinggi maupun di tengah masyarakat.



