Tauhid Mahabbah: Skala Prioritas Antara Cinta Allah dan Cinta Anak

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Kajian Tafsir rutin sebagai bagian dari penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kajian yang dilaksanakan pada Sabtu (23/5/2026) secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Ust. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. yang menyampaikan materi bertajuk “Tauhid Mahabbah: Skala Prioritas antara Cinta Allah dan Cinta Anak” dengan mengkaji Tafsir Tarbawi QS Al-Baqarah ayat 124.

Kajian yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan Ust. Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. dengan tema “Tauhid Mahabbah: Skala Prioritas antara Cinta Allah dan Cinta Anak (Tafsir Tarbawi QS Al-Baqarah: 124).” Dalam kajian tersebut, beliau mengajak peserta memahami teladan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam menempatkan kecintaan kepada Allah di atas segala bentuk kecintaan lainnya.

Ust. Hakimuddin menjelaskan bahwa QS Al-Baqarah ayat 124 mengisahkan Nabi Ibrahim yang memperoleh berbagai ujian berat sebelum diangkat sebagai imam bagi seluruh manusia. Ujian tersebut bukan sekadar menguji kesabaran, tetapi juga menguji sejauh mana tauhid mahabbah atau mengesakan Allah dalam urusan cinta benar-benar tertanam dalam diri seorang hamba.

Salah satu ujian terbesar yang dihadapi Nabi Ibrahim adalah ketika harus menunggu puluhan tahun untuk memperoleh keturunan, kemudian diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus, hingga menerima perintah menyembelih putranya, Ismail. Secara manusiawi, perintah tersebut sangat berat. Namun Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan yang sempurna karena cintanya kepada Allah berada di atas segala-galanya. Ketika beliau telah siap melaksanakan perintah tersebut, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai bentuk rahmat dan penghargaan atas ketaatan hamba-Nya.

Dalam pemaparannya, Ust. Hakimuddin menegaskan bahwa tauhid mahabbah merupakan bagian penting dari tauhid yang sering kali kurang mendapat perhatian. Al-Qur’an menjelaskan bahwa orang-orang beriman memiliki kecintaan yang sangat besar kepada Allah, sedangkan mereka yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan akan menempatkan sesuatu di atas kecintaan kepada-Nya. Jika pada masa dahulu tandingan itu berupa berhala atau sesembahan, maka pada masa kini dapat berupa harta, jabatan, bahkan anak apabila dicintai melebihi Allah SWT.

Meski demikian, beliau menekankan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada anak bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru, ketika seseorang mencintai anak karena Allah, maka cinta tersebut akan melahirkan tanggung jawab untuk membimbing anak agar tetap berada dalam jalan syariat. Orang tua tidak hanya memikirkan kebahagiaan anak di dunia, tetapi juga keselamatannya di akhirat dengan menanamkan akidah, menjaga ibadah, dan mengarahkan mereka kepada ketaatan.

Menurutnya, ujian orang tua pada masa kini sering kali hadir dalam bentuk pilihan antara mengikuti syariat Allah atau menuruti perasaan anak. Misalnya, mencari rezeki dengan cara yang tidak halal demi memenuhi kebutuhan keluarga, enggan membangunkan anak untuk menunaikan salat, atau mengabaikan kewajiban syariat karena khawatir anak merasa tidak nyaman. Padahal, cinta yang sejati justru diwujudkan dengan menjaga anak agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

Mengakhiri kajian, Ust. Hakimuddin mengajak peserta untuk menjadikan kisah Nabi Ibrahim sebagai teladan dalam membangun keluarga yang berlandaskan tauhid. Menempatkan Allah sebagai prioritas utama tidak akan mengurangi kasih sayang kepada anak, tetapi justru menjadikan cinta tersebut lebih tulus, bertanggung jawab, dan bernilai ibadah. Dengan demikian, keluarga tidak hanya dibangun untuk meraih kebahagiaan dunia, tetapi juga menjadi jalan menuju keselamatan di akhirat.

Scroll to Top