SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui Kajian Tafsir Al-Qur’an yang diselenggarakan secara rutin setiap Sabtu. Pada kajian yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (16/5/2026), Ust. Dr. Ainur Rha’in mengulas tafsir QS. Al-Baqarah ayat 149–152 yang mengangkat makna perubahan kiblat, misi kerasulan, serta pentingnya dzikir dan syukur sebagai fondasi kehidupan seorang mukmin.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa perintah menghadap Masjidil Haram saat melaksanakan salat merupakan ketetapan Allah yang bersifat mutlak. Perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis menuju Ka’bah bukan sekadar perpindahan arah geografis, melainkan penegasan atas kebenaran wahyu sekaligus simbol persatuan umat Islam dalam menjalankan syariat.
Ust. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa pengulangan firman Allah pada QS. Al-Baqarah ayat 149 dan 150 menunjukkan pentingnya ketaatan yang utuh terhadap perintah-Nya. Meskipun perubahan kiblat sempat memunculkan pertanyaan dan penolakan dari sebagian kalangan, umat Islam diajarkan untuk menjadikan wahyu sebagai landasan utama dalam bersikap.
Menurutnya, kiblat bukan hanya menjadi arah dalam pelaksanaan salat, tetapi juga mencerminkan kesatuan akidah dan orientasi hidup seorang muslim. Karena itu, Allah memerintahkan agar kaum muslimin tidak takut terhadap penilaian ataupun tekanan manusia, melainkan hanya kepada Allah SWT. Sikap tersebut menjadi bekal penting dalam menjaga keteguhan iman di tengah berbagai tantangan kehidupan.
Kajian juga menyoroti bahwa perubahan kiblat memiliki hikmah untuk mematahkan argumentasi kaum musyrikin dan Ahli Kitab yang mempertanyakan ajaran Rasulullah SAW. Dengan turunnya perintah tersebut, Allah menyempurnakan nikmat-Nya sekaligus memberikan petunjuk kepada umat Islam agar tetap teguh dalam menjalankan syariat tanpa dipengaruhi keraguan ataupun tekanan dari pihak lain.
Selain membahas perubahan kiblat, Ust. Ainur Rha’in menguraikan kandungan QS. Al-Baqarah ayat 151 yang menjelaskan misi utama diutusnya Rasulullah SAW. Kehadiran Nabi tidak hanya menyampaikan ayat-ayat Allah, tetapi juga menyucikan jiwa umat, mengajarkan Al-Qur’an beserta hikmah, serta membimbing manusia menuju ilmu yang sebelumnya belum mereka ketahui.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang membangun manusia secara menyeluruh. Pendidikan dalam Islam tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak, penyucian jiwa, serta penguatan karakter sehingga melahirkan pribadi yang berilmu, beradab, dan bertakwa.
Pada akhir pembahasan, Ust. Ainur Rha’in mengangkat pesan mendalam dari QS. Al-Baqarah ayat 152 tentang pentingnya menjaga hubungan spiritual dengan Allah melalui dzikir dan syukur. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya dalam hati, lisan, maupun perbuatan. Sebagai balasan, Allah menjanjikan rahmat, pertolongan, dan penjagaan bagi hamba yang selalu mengingat-Nya.
Syukur juga menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga keberkahan hidup. Rasa syukur diwujudkan dengan memanfaatkan setiap nikmat sesuai tuntunan Allah serta menjauhi sikap kufur nikmat yang mengabaikan atau menyalahgunakan karunia-Nya.
Melalui kajian ini, peserta diajak memahami bahwa perubahan kiblat bukan sekadar bagian dari sejarah Islam, melainkan pelajaran tentang kepatuhan kepada Allah, keberanian mempertahankan kebenaran, serta pentingnya membangun hubungan yang erat dengan Sang Pencipta melalui dzikir, syukur, dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diharapkan semakin memperkokoh karakter spiritual dosen dan tenaga kependidikan UMS sebagai bagian dari civitas akademika Muhammadiyah yang berkemajuan.



