SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) kembali menyelenggarakan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-58 pada Sabtu (20/6). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas sebagai pembinaan akhir sebelum menyelesaikan studi dan memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
Sebagai bagian dari pembinaan khas UMS, BAPS menghadirkan rangkaian materi yang mengintegrasikan penguatan spiritualitas, ideologi Kemuhammadiyahan, akhlak, ibadah, serta kesiapan profesional. Melalui pembekalan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menyandang gelar sarjana, tetapi juga mampu menjadi pribadi yang berkarakter dan membawa manfaat bagi umat.

Sesi pertama dibuka oleh Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D. dengan materi Profetik Transendental. Ia menjelaskan bahwa karakter profetik merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan Muhammadiyah, yakni sidiq (jujur), fathonah (cerdas), amanah (dapat dipercaya), dan tabligh (mampu menyampaikan kebenaran).
Menurutnya, karakter tersebut menjadi cerminan umat terbaik yang senantiasa mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, serta beriman kepada Allah. Nilai-nilai profetik dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.
“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ujar Prof. Ihwan.
Ia menambahkan bahwa dimensi transendensi diwujudkan melalui komunikasi manusia dengan Allah melalui ibadah seperti shalat dan dzikir yang menghadirkan ketenangan jiwa sekaligus membentuk pengendalian diri.

Pada sesi kedua, Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I. menyampaikan materi Aqidah dan Akhlak. Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi pada era Society 5.0 harus diimbangi dengan kekuatan iman dan akhlak agar lulusan mampu memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat.
“Era 5.0 menuntut insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Jadilah mujahid ilmu dan agen tanwir masyarakat,” pesannya.
Penguatan aspek ibadah dilanjutkan pada sesi ketiga bersama Suwinarno, M.P.I. melalui materi Thaharah dan Shalat. Ia menjelaskan bahwa thaharah menjadi syarat sah ibadah, sedangkan shalat merupakan pondasi utama kehidupan seorang muslim.

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya sungguh telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegasnya.
Sesi keempat diisi oleh Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. yang membawakan materi Karakteristik Sarjana Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa lulusan Muhammadiyah harus mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual dengan akhlak, kemandirian, kepedulian sosial, serta semangat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Sarjana Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, peduli sosial, serta berpihak pada kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Sebagai penutup, Drs. Suyatmin, M.Si. menyampaikan materi Persiapan Memasuki Dunia Kerja dan Pengembangan Karier. Ia mengulas berbagai tantangan yang dihadapi lulusan saat ini, mulai dari terbatasnya kesempatan kerja, tuntutan kompetensi yang semakin tinggi, hingga persaingan dengan tenaga kerja berpengalaman.
Ia mengajak mahasiswa untuk mengenali potensi diri, memperbaiki kekurangan, mengembangkan kelebihan, serta mempersiapkan mental yang tangguh. Selain itu, budaya literasi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan keterampilan harus terus ditingkatkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.
Melalui BAPS ke-58, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter profetik, akhlak yang mulia, kesiapan profesional, dan semangat pengabdian. Bekal tersebut diharapkan menjadi landasan bagi para lulusan untuk berkarya secara kompetitif sekaligus menghadirkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap ruang kehidupan.



