SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Webinar Series sebagai bagian dari pembinaan rutin Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi dosen dan tenaga kependidikan. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (20/5/2026) ini menghadirkan Ahmad Imam Mujaddid Rais, M.IR., Ketua Badan Pengurus LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan tema “Kurban: Dari Ibadah Individual ke Gerakan Kemanusiaan Perspektif Muhammadiyah.”
Webinar yang difasilitasi oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) UMS ini bertujuan memperkuat pemahaman sivitas akademika terhadap nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, sekaligus mengaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial melalui gerakan filantropi yang berkemajuan.
Dalam pemaparannya, Ahmad Imam Mujaddid Rais menjelaskan bahwa ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai bentuk ketakwaan individual kepada Allah SWT, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Kurban merupakan syiar Islam yang mengajarkan keikhlasan, kepatuhan kepada Allah, serta kepedulian terhadap sesama sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Hal tersebut ditegaskan melalui sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Kautsar ayat 2, QS. Al-Hajj ayat 34–36, dan QS. Ash-Shaffat ayat 102–107 yang menjadi landasan syariat kurban.

Ia menuturkan bahwa tantangan kurban di Indonesia saat ini bukan terletak pada rendahnya potensi masyarakat untuk berkurban, melainkan pada distribusinya. Berdasarkan data yang dipaparkan, potensi ekonomi kurban nasional mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahun dengan jutaan rumah tangga melaksanakan ibadah kurban. Namun, distribusi daging kurban masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan sehingga banyak daerah terpencil dan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) belum memperoleh manfaat secara optimal.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu direspons melalui inovasi dalam pengelolaan kurban. Muhammadiyah melalui LAZISMU mengembangkan konsep distribusi yang lebih berkeadilan dengan mengolah daging kurban menjadi produk kemasan yang memiliki daya simpan lebih lama. Langkah ini memungkinkan daging kurban didistribusikan kepada masyarakat di daerah terdampak bencana, wilayah 3T, panti asuhan, kawasan padat, kumuh, dan miskin (PAKUMIS), serta mendukung upaya pencegahan stunting melalui peningkatan konsumsi protein hewani.

Ahmad Imam Mujaddid Rais menegaskan bahwa transformasi kurban menjadi gerakan kemanusiaan merupakan implementasi nyata Islam Berkemajuan. Menurutnya, ibadah kurban harus memberikan dampak sosial yang lebih luas sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan.
Selain memperkuat nilai-nilai filantropi Islam, ia juga menjelaskan bahwa berbagai inovasi sosial yang dikembangkan LAZISMU selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek pengentasan kemiskinan, penghapusan kelaparan, peningkatan kesehatan masyarakat, serta pengurangan kesenjangan sosial.
Melalui Webinar Series ini, LPPIK UMS berharap para dosen dan tenaga kependidikan semakin memahami bahwa nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian sosial yang berkelanjutan. Semangat kurban diharapkan menjadi inspirasi untuk membangun budaya berbagi, memperkuat solidaritas kemanusiaan, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi umat dan masyarakat.



