SURAKARTA – Menyongsong kelulusan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengikuti Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) ke-57 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan (LPPIK), Sabtu (16/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan akhir yang dirancang untuk membentuk lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Islami, kesiapan profesional, dan komitmen pengabdian kepada masyarakat.
Diikuti oleh mahasiswa lintas fakultas, BAPS ke-57 menghadirkan lima materi yang mengintegrasikan penguatan ideologi Kemuhammadiyahan, akhlak, ibadah, hingga kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja. Pembekalan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki babak baru sebagai lulusan perguruan tinggi.

Pada sesi kedua, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag. menyampaikan materi Karakteristik Sarjana Muhammadiyah. Ia mengajak peserta memahami bahwa gelar sarjana bukan sekadar simbol keberhasilan akademik, melainkan amanah untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Seorang Sarjana Muhammadiyah dituntut tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, mandiri, peduli sosial, serta berpihak pada kemaslahatan umat,” tegasnya.
Persiapan menghadapi dunia profesional menjadi fokus pada sesi ketiga bersama Drs. Suyatmin Waskito Adi, S.E., M.Si. Melalui materi Persiapan Karier, ia mengulas berbagai tantangan yang dihadapi lulusan saat ini, mulai dari kesenjangan keterampilan, disrupsi kecerdasan buatan (AI), hingga ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, perubahan tersebut harus direspons dengan kesiapan untuk terus belajar, mengembangkan kompetensi, serta membangun identitas profesional.

“Dunia kerja berubah sangat cepat. Karena itu, kemampuan beradaptasi, semangat lifelong learning, dan personal branding menjadi modal penting agar lulusan mampu menciptakan peluang, bukan hanya mencari pekerjaan,” jelasnya.
Pada sesi keempat, Suwinarno, M.P.I. membawakan materi Thaharah dan Shalat. Ia menjelaskan bahwa kesucian merupakan syarat sah ibadah, sementara shalat menjadi pondasi utama yang membentuk kedisiplinan, ketenangan, dan kekuatan spiritual seorang muslim.
“Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi sumber ketenangan dan kekuatan hidup yang akan membimbing setiap langkah seorang muslim,” ujarnya.
Sebagai penutup, Dr. Mahasri Shobahiya, M.Ag. menyampaikan materi Akhlak dan Aqidah. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari prestasi duniawi, tetapi juga dari kualitas iman dan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Perjalanan hidup harus selalu berorientasi pada ridha Allah melalui iman yang kokoh, amal saleh, dan kesiapan menghadapi kehidupan akhirat,” pesannya kepada peserta.
Melalui penyelenggaraan BAPS ke-57, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, dan integritas moral. Dengan bekal tersebut, para lulusan diharapkan mampu menjadi Sarjana Muhammadiyah yang adaptif terhadap perubahan zaman, berdaya saing global, serta tetap teguh mengamalkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam setiap pengabdian kepada masyarakat.



