SURAKARTA – Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) periode ke-54 kembali digelar pada Sabtu (14/2) sebagai bagian dari pembinaan akhir mahasiswa menjelang kelulusan. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang menguatkan aspek spiritualitas, ideologi Kemuhammadiyahan, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja.
Pada sesi pertama, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D menyampaikan materi Profetik Transendental. Ia menekankan pentingnya karakter profetik sebagai identitas lulusan perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Karakter profetik harus melekat pada setiap lulusan, yakni sidiq, fathonah, amanah, dan tabligh. Inilah ciri umat terbaik yang menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa profetik memiliki tiga pilar utama, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Transendensi, menurutnya, adalah kesadaran bahwa Allah melampaui segala sesuatu di dunia.

“Transendensi adalah kesadaran bahwa Allah melampaui segala sesuatu. Melalui shalat dan dzikir, manusia membangun komunikasi metafisik untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menenangkan jiwa,” jelasnya.
Sesi kedua menghadirkan Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd dengan materi Kemuhammadiyahan dan Profil Muhammadiyah. Ia mengajak peserta memahami sosok KH Ahmad Dahlan sebagai penggerak pembaruan Islam.
“KH Ahmad Dahlan adalah man of action. Beliau membaca Islam secara normatif dan historis, merenungkan secara mendalam, lalu mengamalkannya dengan keunggulan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya nilai Al-Ulum Al-Islamiyah seperti tauhid, ilm, amanah, adl, khilafah, istishlah, dan ibadah sebagai landasan berpikir dan bertindak. Mengutip QS. An-Nahl ayat 68–69, ia berpesan:
“Jadilah seperti lebah, mampu hidup di mana saja dan memberi manfaat di setiap tempat.”

Memasuki sesi ketiga, Drs. Suyatmin, M.Si membahas persiapan memasuki dunia kerja dan pengembangan karier. Ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi lulusan, mulai dari terbatasnya lowongan pekerjaan hingga tuntutan keahlian yang semakin kompleks.
“Tantangan dunia kerja semakin kompleks, lowongan terbatas dan tuntutan keahlian semakin tinggi. Karena itu, mahasiswa harus mengenali dirinya sendiri,” tuturnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk memperbaiki kekurangan, mengembangkan kelebihan, serta memperkuat mental dan kemampuan mengontrol emosi. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperluas wawasan melalui literasi dan pemanfaatan teknologi.
Penguatan aspek ibadah disampaikan pada sesi keempat oleh Suwinarno, M.P.I dengan materi thaharah dan shalat.

“Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikannya, sungguh ia telah menegakkan agamanya, dan siapa yang meninggalkannya berarti telah merobohkannya,” tegasnya.
Sementara itu, sesi terakhir ditutup oleh Dr. Triono Ali Mustofa, M.Pd.I dengan materi aqidah dan akhlak. Ia menekankan bahwa era Society 5.0 menuntut keseimbangan antara iman, ilmu, dan akhlak.
“Era 5.0 menuntut insan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Jadilah mujahid ilmu dan agen Tanwir di tengah masyarakat,” pesannya.
Melalui BAPS periode ke-54 ini, peserta diharapkan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual, ideologis, dan profesional. Kelulusan bukan sekadar akhir studi, melainkan awal pengabdian sebagai insan yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan dalam kehidupan bermasyarakat.



