Tarhib Ramadhan 1447 H, Kajian Tarjih Online UMS Tekankan Kesiapan Spiritual dan Ketundukan pada Hisab Muhammadiyah

SURAKARTA – Kajian Tarjih Online Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ke-212 yang digelar pada Selasa (10/2) mengangkat tema “Tarhiib Ramadhan 1447 H dalam Perspektif Muhammadiyah.” Kajian ini menghadirkan Ustadz Yayuli, M.P.I., yang mengajak jamaah menyambut bulan suci bukan sekadar dengan seremoni, tetapi dengan kesiapan iman dan ilmu.

Dalam pemaparannya, Yayuli menjelaskan bahwa tarhib berasal dari kata Arab tarhīb yang berarti menyambut dengan penuh kelapangan hati dan kegembiraan. Ungkapan “Marhaban ya Ramadhan” mencerminkan rasa cinta, antusiasme, serta kesiapan jiwa untuk memasuki bulan suci.

“Tarhib bukan hanya ucapan atau kegiatan seremonial. Ia adalah proses internalisasi nilai-nilai spiritual agar kita siap menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh,” tegasnya.

Ia menambahkan, tradisi tarhib di lingkungan Muhammadiyah diisi dengan pengajian, kerja bakti masjid, hingga penguatan literasi keislaman. Tujuannya agar umat menyambut Ramadhan dengan persiapan fisik, mental, dan spiritual yang matang.

Dalam konteks penetapan awal Ramadhan, Yayuli menyampaikan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang telah dikaji oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

“Keputusan ini bersifat ilmiah sekaligus spiritual. Warga Muhammadiyah diharapkan mengikuti ketetapan tersebut sebagai pedoman ibadah puasa yang sah,” ujarnya.

Kajian juga menguatkan dalil-dalil shahih tentang keutamaan menyambut Ramadhan. Di antaranya sabda Rasulullah SAW tentang datangnya bulan yang penuh berkah (HR. Ahmad), janji ampunan bagi yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala (HR. Bukhari dan Muslim), serta kabar bahwa pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu ketika Ramadhan tiba.

Yayuli menekankan bahwa semangat tarhib harus diwujudkan dalam peningkatan amal shalih, seperti memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki kualitas ibadah. Menurutnya, Rasulullah SAW adalah sosok paling dermawan, dan kedermawanan itu semakin meningkat saat Ramadhan.

“Tarhib yang shahih adalah persiapan yang sesuai sunnah, bukan sekadar euforia. Kita ingin Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya.

Melalui Kajian Tarjih Online ke-212 ini, UMS kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan pencerahan keislaman yang berbasis ilmu, manhaj tarjih, dan responsif terhadap dinamika umat dalam menyongsong bulan suci Ramadhan.

Scroll to Top