Qiyamul Lail ke-201 UMS: Hospitality dalam Layanan Kampus sebagai Wujud Dakwah dan Ibadah

SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Qiyamul Lail ke-201 pada Jumat, 13 Februari 2026. Tausiyah disampaikan oleh Shinta Permatasari, S.E., M.M. yang mengangkat tema “Hospitality dalam Layanan di Kampus.”

Dalam pemaparannya, Shinta menegaskan bahwa pelayanan di lingkungan kampus bukan sekadar tugas administratif, melainkan bagian dari ibadah dan dakwah. Ia merujuk pada Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah, khususnya bagian tentang kehidupan dalam mengelola amal usaha, yang menegaskan bahwa seluruh pimpinan dan karyawan Muhammadiyah wajib menunjukkan keteladanan, melayani sesama, menghormati hak-hak orang lain, serta memiliki kepedulian sosial sebagai cerminan sikap ihsan dan ikhlas.

“Ketika dosen dan tenaga kependidikan melayani mahasiswa dengan ramah, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan ajaran Rasulullah SAW,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala hal.”
(HR. Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)

Menurutnya, senyum, sapaan tulus, serta kesediaan membantu adalah wujud wajah Islam yang sejuk. Setiap karyawan Muhammadiyah harus menyadari bahwa dirinya adalah duta dakwah. Ketika pengguna layanan merasa nyaman, secara tidak langsung nilai-nilai Islam sebagai agama yang memudahkan dan penuh kasih sayang telah tersampaikan.

Shinta juga mengaitkan konsep hospitality dengan karakter “Karyawan Berkemajuan” yang sejalan dengan slogan I’M UMS dan ONE UMS yang digaungkan Rektor UMS. Muhammadiyah, lanjutnya, menekankan etos kerja tinggi yang berlandaskan akhlakul karimah.

Ia menjelaskan beberapa karakter utama dalam hospitality Islami. Pertama, ihsan dan profesional, yakni bekerja sebaik mungkin seolah-olah Allah melihat setiap aktivitas pelayanan. Kedua, ikhlas membantu, melayani bukan karena tekanan atau kepentingan tertentu, tetapi karena panggilan hati. Ketiga, menjadikan pelayanan sebagai ibadah, yakni membantu sesama sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Keempat, bersikap inklusif tanpa pilih kasih, memuliakan setiap individu tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun status sosial sebagai wujud karomah insaniyah.

“Senyum adalah sedekah, pelayanan adalah dakwah,” tegasnya.

Ia mencontohkan nilai Surat Al-Ma’un dalam praktik profesional melalui sikap cepat tanggap, tidak membiarkan pengguna layanan menunggu terlalu lama, bertutur kata lembut meskipun dalam kondisi lelah, serta bersikap solutif—menjadi pemberi solusi, bukan penambah beban.

Di tengah era media sosial yang sarat komentar dan kecenderungan individualisme, Shinta berharap sikap ramah warga Muhammadiyah menjadi oase di tengah kekeringan empati. Hospitality, menurutnya, mampu menghapus prasangka, menjadi magnet hidayah melalui kelembutan budi pekerti, serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat secara mental dan emosional.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan tempat kerja bukan hanya sebagai ruang mencari nafkah, tetapi juga ladang amal.

“Setiap sapaan ramah dan bantuan yang kita berikan adalah catatan amal jariyah. Wajah yang berseri-seri saat bertemu saudara adalah sedekah, dan memuliakan manusia adalah jalan menuju ridha Sang Pencipta,” pungkasnya.

Scroll to Top