Pembukaan Baitul Arqam Kloter 6

Oleh Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si, Ph.D

“Carilah keberkahan di dunia dengan menghormati dan menyayangi ayah dan carilah keberkahan di dunia dan di akhirat dengan berbakti sepenuhnya kepada ibu.”

Sebagai seorang mahasiswa harus berkorban untuk kedua orangtua. Terdapat dua kisah inspiratif seorang mahasiswa yang berkorban untuk orangtua. Kisah pertama adalah seorang mahasiswa yang rela untuk menjadi tukang becak untuk menopang ekonomi keluarga dan membiayai kuliah. Mahasiswa tersebut selalu menunggu pelanggan di depan kampus UMS. Pelanggan mahasiswa tukang becak adalah dosen dan teman-teman mahasiswanya. Seorang mahasiswa ini mempunyai mentalitas yang sangat tinggi dan tidak pernah malu dalam menjalani aktivitas tersebut. Kisah kedua adalah seorang mahasiswa yang rela untuk menjadi pemulung untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai sekolah adiknya. Pada awalnya, mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang aktif dan mempunyai nilai indeks prestasi yang baik, namun akan tetapi prestasi mahasiswa tersebut selalu turun setiap semesternya. Mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa setiap selesai kuliah ia berjalan kaki untuk mencari barang bekas dan ia jual untuk membantu ekonomi keluarga dan membiayai sekolah adiknya. Lalu pengorbanan apa yang kamu berikan kepada orangtua?

Mencari Ridho Allah SWT

Ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala tergantung pada ridho kedua orangtua. Seorang anak wajib memohon ridho orangtua dalam setiap aktivitas kehidupan. Ridho orangtua akan menyebabkan terbukanya pintu kesuksesan dunia dan akhirat. Kemarahan orangtua kepada anak akan membuat kehancuran kehidupan dunia dan akhirat. Allah memberikan perintah untuk berbakti kepada oangtua lewat firman-Nya yang berbunyi:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra’ ayat 23)

Pahala Berbakti Kepada Orangtua

Seorang anak yang masih mempunyai orangtua wajib untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bersyukur kepada orangtua. Seorang mahasiswa dapat bersyukur kepada orangtua dengan taat kepada kedua orangtua. Mahasiswa dapat mewujudkan ketaatan kepada orangtua dengan cara melaksanakan pembelajaran di Universitas dengan semangat, penuh tanggungjawab dan menunjukkan prestasi belajar. Seorang yang berbakti kepada orangtua akan mendapatkan pahala surga. Seorang anak harus bersyukur ketika kedua orangtua masih hidup, berbakti dan berbuat baik pada orangtua merupakan jalan termudah menuju surga.

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemudahan bagi seorang anak dalam berbakti kepada orangtua. Seorang anak dapat berbakti kepada orangtua yang masih hidup dengan cara sebagai berikut, diantaranya adalah (a) patuh, taat dan hormat dengan segala nasehat orangtua, (b) semangat dalam belajar, (c) tidak membantah nasehat dan perintah orangtua, (d) menatap orangtua dengan pandangan yang menyejukkan, (e) memperbanyak doa untuk kebaikan orangtua. Seorang anak dapat berbakti kepada orangtua yang telah meninggal dunia dengan cara memperbanyak doa dan melakukan amal sholih.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 5

Oleh Prof. Supriyono, S.T., M.T., Ph.D. (Wakil Rektor V)

Di era informasi digital yang begitu cepat dan luas seperti sekarang, kita berada dalam lingkungan di mana dihadapkan pada banyak sekali informasi setiap harinya. Informasi ini datang kepada dalam berbagai bentuk: dari media sosial, berita, internet, dan sumber-sumber lainnya. Tantangan terbesar bukan lagi untuk mengakses informasi, tetapi untuk menyaringnya dan membuat keputusan yang tepat.

Tentu saja, dalam menjalani hidup sehari-hari, kita semua berupaya untuk menjaga perilaku dan akhlak yang baik. Menjadi individu yang bermoral, peduli pada orang lain, dan berperan positif dalam masyarakat. Namun, dalam kebanjiran informasi dan tekanan yang datang dari berbagai arah, seringkali kita merasa bingung dan terombang-ambing oleh berbagai pengaruh.

Inilah mengapa, dalam kuliah umum ini, saya akan sampaikan konsep tentang aqidah, yaitu keyakinan agama kita, sebagai fondasi yang kuat yang dapat membimbing manusia melalui kebisingan informasi modern. Bagaimana kekuatan aqidah dapat menjadi benteng yang kokoh yang membantu untuk memahami dan menilai informasi yang diterima, dan pada gilirannya, memengaruhi perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Saat membahas hal ini, kita akan merenungkan konsep-konsep agama yang mendasar, moralitas, dan etika, serta bagaimana dapat menerapkan prinsip-prinsip ini dalam tindakan kita sehari-hari. bagaimana keimanan dan keislaman dapat menjadi pedoman yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman dan teknologi, sekaligus menjaga integritas pribadi dan sosial kita.

Kami berharap bahwa kuliah umum ini akan memberikan wawasan yang berharga dan memberdayakan kita semua untuk menjadi individu yang lebih kuat dalam iman, perilaku, dan akhlak.

Pesan utama yang dapat diambil adalah menghadapi perubahan zaman dan teknologi, keimanan, keislaman, dan nilai-nilai Islam harus tetap menjadi landasan yang kuat. Ini adalah cara untuk memastikan bahwa kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana, menjaga akhlak yang baik, dan membuat keputusan yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

 

Terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita mulai perjalanan kita untuk menjadikan kekuatan aqidah sebagai benteng dalam menghadapi informasi di dunia yang penuh dengan tantangan ini.

Pembukaan Baitul Arqam Kloter 4

Oleh Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D

"Akan ada banyak keajaiban saat kita percaya kepada Allah"

Materi ini akan membahas konsep tentang makhluk Allah, yang mencakup manusia, tumbuhan, dan hewan. Serta menjelaskan karakteristik unik dari masing-masing makhluk ini dan prinsip-prinsip hidup yang dapat diambil dari ajaran Islam.

Makhluk Allah terbagi menjadi tiga jenis utama: manusia, tumbuhan, dan hewan. Tumbuhan membutuhkan makanan dan mati jika tidak mendapatkannya, sementara hewan mencari makanan untuk bertahan. Manusia memiliki akal pikiran, pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Bahkan sejak lahir, pendengaran adalah indera pertama yang aktif, dengan lantunan ayat Quran diberikan sejak dalam kandungan. Manusia memiliki peran istimewa sebagai Khalifah, berbeda dari jin dan malaikat karena Allah memberikan akal pikiran dan hati nurani kepada manusia.

Dalam menghadapi ujian hidup, ada dua prinsip penting yang harus dipegang:

  1. Bersyukur adalah sikap menghargai semua nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan berdoa dan bersyukur, kita dapat mengalami kebahagiaan dalam menjalani hidup dan menghargai nikmat-Nya.
  2. Sabar adalah kunci ketika kita menghadapi tantangan dan perjuangan dalam hidup. Seperti halnya untuk naik kelas dalam pendidikan, diperlukan kesabaran dalam proses belajar dan berkembang.

Selain itu, kita percaya bahwa Allah adalah penghidup kita, dan dengan menyebut nama-Nya (bismillah), kita yakin akan dimudahkan dalam segala hal.

Sumber pengetahuan yang paling sempurna adalah Al-Qur’an. Tugas kita adalah membaca, memahami, dan menerapkan ajaran dari Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Mengikuti petunjuk Al-Qur’an membawa ketenangan karena kita memiliki panduan yang jelas dalam menghadapi hidup.

Tentu saja, kita tidak boleh merasa paling pintar karena kebijaksanaan tertinggi hanya dimiliki oleh Allah. Mengajar dan berbagi ilmu adalah cara untuk meningkatkan pengetahuan, dan ilmu kita akan terus bertambah jika kita terus berusaha dan berkontribusi kepada orang lain.

 Al-Baqarah ayat 3 mengajarkan tentang konsep ghaib dan peran malaikat:

Konsep Ghaib: Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah, malaikat, jin, dan setan adalah entitas yang ghaib, atau tidak terlihat secara fisik. Malaikat, meskipun tak terlihat, selalu hadir di sekitar kita.

Pencatatan oleh Malaikat: Setiap tindakan dan perbuatan yang kita lakukan dicatat oleh malaikat. Mereka adalah saksi atas segala yang kita kerjakan, baik yang baik maupun yang buruk.

Pengaruh Jin dan Setan: Jin dan setan cenderung mengajak kita untuk melakukan perbuatan yang buruk. Mereka mencoba mempengaruhi manusia untuk berbuat dosa dan melawan ajaran agama.

Selanjutnya, konsep syarikat sebagai manusia mengacu kepada orang-orang yang menunaikan kewajiban agama, seperti shalat, puasa, zakat, dan naik haji. Ini adalah tanda-tanda komitmen dalam beribadah kepada Allah.

Berakhlak baik adalah nilai penting dalam Islam, dengan tiga tingkatan: mukmin, muslim, dan muhsin. Ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada sesama adalah bagian integral dari iman dan keimanan yang lebih tinggi.

Mengenai pendidikan, ada banyak cara untuk belajar, tetapi yang paling penting adalah memiliki niat yang tulus untuk mencari ilmu. Poin-poin yang dijelaskan, yaitu Al-Baqarah ayat 3, Al-Baqarah ayat 177, aqidah yang kuat, pemeliharaan syariah, dan perbuatan baik kepada siapa pun (Muhsin), mengingatkan kita pada nilai-nilai fundamental dalam agama Islam yang mengarah pada kehidupan yang bermakna dan beriman.

Bahasa Indonesia

Oleh Prof. Dr. Muhammad Da’i, S.Si., M.Si., Apt. (Wakil Rektor II)

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam"

WhatsApp Image 2023-09-12 at 08.52.06_11zon

Hari ini, kita akan menggali pesan-pesan yang sangat berharga dari surat Al-Ashr dalam Al-Qur’an, serta hadis-hadis Rasulullah SAW yang mencerminkan pentingnya iman, amal soleh, waktu, dan tanggung jawab dalam hidup kita sebagai umat Muslim.

Surat Al-Ashr Mengingatkan Kita tentang Pentingnya Waktu: Surat Al-Ashr mengajarkan kita bahwa waktu adalah aset yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Orang yang tidak memanfaatkan waktu dengan baik adalah orang yang merugi. Oleh karena itu, kita harus menghargai setiap momen dalam hidup kita dan menjalankan aktivitas dengan tujuan yang baik.

Ikrarkan Iman dengan Tindakan: Iman bukan hanya tentang keyakinan dalam hati, tetapi juga harus tercermin dalam tindakan kita sehari-hari. Kita harus berusaha untuk menjadikan iman sebagai landasan dalam segala aspek kehidupan kita, baik dalam berbicara, berperilaku, atau bekerja. Iman yang kuat akan mengarah pada istiqomah, yaitu konsistensi dalam mengikuti jalan keimanan. Allah SWT berjanji akan mengirimkan malaikat untuk membantu orang yang istiqomah atas jalan ini dan menghadiahkan mereka dengan surga.

Iman dan Amal Soleh: Iman adalah tiket menuju surga, tetapi itu hanya langkah awal. Amal soleh, tindakan yang baik dan benar, adalah yang menguatkan iman kita. Keduanya harus selalu berjalan bersama-sama.

Percaya pada Hari Akhir: Kita harus memiliki keyakinan kuat pada hari akhir. Ini mengingatkan kita untuk selalu berbicara yang baik dan tidak berlebihan. Setiap kata dan tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Kendalikan Diri di Tengah Tantangan: Masa depan membawa berbagai tantangan, termasuk kemajuan teknologi dan perubahan peradaban yang berat. Dalam menghadapinya, kita harus menjaga hati dan menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pesan untuk Generasi Muda: Pesan penting lainnya adalah bagaimana kita memanfaatkan amanah yang diberikan kepada kita. Seperti ketika orangtua memberikan amanah untuk belajar, kita harus menjalankannya dengan baik. Ini juga mencakup ibadah, adab, dan akhlak yang lebih baik. Bagaimana kita menghabiskan waktu kita haruslah bermanfaat dan positif.

Pengampunan Allah: Ketika kita melakukan kesalahan dan bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT, Dia akan memberikan kita pengampunan, kelapangan, jalan keluar dari masalah, dan rezeki yang kita butuhkan.

Kesimpulan: Surat Al-Ashr mengajarkan kita untuk menghargai waktu dan menjalani kehidupan dengan iman dan amal soleh. Pesan-pesan ini mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai seorang Muslim dalam menjalani kehidupan ini dengan penuh kesadaran. Kita harus menghargai dua nikmat penting, yaitu kesehatan dan waktu luang. Gunakan kesehatan kita untuk berbuat amal kebaikan, dan manfaatkan waktu luang dengan bijak.

Saya berharap kuliah umum ini memberikan wawasan yang berguna dan mengingatkan kita semua tentang pentingnya menghargai waktu, menjalani hidup dengan iman dan amal soleh, serta menjaga diri di tengah tantangan zaman. Semoga kita semua menjadi lebih baik dalam menjalani peran sebagai umat Muslim yang taat.

Surakarta, 9 September 2023 – Lembaga Pengembangan Pondok al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) yang ke-23. Acara ini merupakan prasyarat bagi mahasiswa yang akan wisuda atau telah menempuh semester 6 dengan minimal 80 SKS. 

BAPS bertujuan untuk membentuk karakter dan kepribadian mahasiswa sesuai dengan manhaj Muhammadiyah. Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan dan pada BAPS kali ini, acara dimulai pukul 03.30 WIB dengan agenda presensi, sholat sunnah, dan sholat subuh berjamaah.

Kegiatan BAPS 23 menghadirkan pembicara-pembicara menarik di setiap sesinya. Beberapa pembicara yang turut berpartisipasi antara lain:

  • Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si, Rektor UMS
  • Dr. Imron Rosyadi, M.Ag, Kepala Lembaga Pengembangan Pondok al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK)
  • Prof. Dr. Em Sutrisna, Wakil Rektor 4 UMS
  • Prof. Dr. Ihwan, M.Si, Wakil Rektor 3 UMS

Acara ini diharapkan dapat memberikan pembekalan spiritual dan intelektual bagi para mahasiswa sebelum mereka melangkah ke dunia kerja dan kehidupan pasca kampus. Dengan adanya BAPS, UMS berharap mahasiswa tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai Muhammadiyah.

Pembukaan BA Kloter 2

Oleh Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. (Rektor UMS)

“Berbuat baiklah kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Kalau kamu berbuat baik kepada orang lain, pasti Allah akan membalasanya”

 

Jum’at, 8 September 2023 – Baitul Arqam Kloter 2 ini dibuka dengan kuliah umum oleh Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.

Bagaimana kita dapat memelihara aqidah kita selama perjalanan pendidikan kita dan menghubungkannya dengan kesuksesan dalam kehidupan.

Keutamaan Aqidah : Pertama-tama, mari kita pahami bahwa aqidah kita adalah fondasi yang sangat penting dalam kehidupan kita. Aqidah adalah keyakinan kita terhadap Allah dan prinsip-prinsip agama kita. Jangan sekali-kali biarkan pendidikan kita merusak aqidah kita. Islam adalah agama yang netral terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kita harus tetap berhati-hati agar tidak terpengaruh negatif oleh kemajuan tersebut.

Pengaruh Teknologi : Salah satu aspek yang perlu kita waspadai adalah penggunaan teknologi, seperti handphone. Jangan biarkan teknologi merusak aqidah kita. Selalu berhati-hati dengan konten yang kita konsumsi dan cara kita menggunakan teknologi untuk memastikan itu sejalan dengan nilai-nilai agama kita.

Pengembangan Diri : Selain memelihara aqidah, penting untuk terus mengembangkan softskill, seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, dan empati. Bertanggung jawab dan membantu orang lain adalah tindakan yang dapat membentuk karakter kita dan memperkuat aqidah.

Kebaikan dan Balasan : Berbuat baik kepada siapapun tanpa membeda-bedakan adalah prinsip penting dalam Islam. Ingatlah bahwa jika kita berbuat baik kepada orang lain, pasti Allah akan membalasnya. Hal ini disebutkan di surat Al-Isra’ ayat 7 yang berbunyi, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” Ini adalah salah satu cara untuk memperkuat aqidah kita dan menciptakan kedamaian dalam masyarakat.

Kunci Kesuksesan : Kesuksesan dalam hidup bukan hanya tentang pencapaian materi atau karier. Kesuksesan sejati adalah ketika kita memiliki dasar aqidah yang kuat dan rajin beribadah. Ibadah adalah kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai tujuan hidup yang sejati..

Doa Orang Tua : Jangan lupakan kekuatan doa orang tua, terutama doa ibu. Doa ibu adalah salah satu amalan yang sangat berharga dalam Islam, dan itu memiliki pengaruh yang besar dalam hidup kita. Selalu minta doa dan restu dari orang tua, karena mereka adalah titik awal kesuksesan kita.

Humble dan Bersyukur : Terakhir, jangan pernah menganggap kesuksesan kita sebagai hasil dari usaha sendiri. Ingatlah bahwa ada doa orang tua yang selalu mendukung kita. Tetaplah rendah hati dan bersyukur atas segala yang telah Allah berikan.

 

Dalam kesimpulannya, memelihara aqidah kita dan mencapai kesuksesan dalam pendidikan dan kehidupan adalah perjalanan yang berkelanjutan. Semoga kita semua dapat terus memperkuat aqidah kita, mempraktikkan nilai-nilai agama kita, dan meraih kesuksesan dengan penuh rasa syukur. Terima kasih atas perhatiannya.

Pembukaan BA Kloter ke 1

Oleh Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes. (Wakil Rektor IV UMS)

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

(QS. Al Baqarah : 216)

Sering kali kita menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan dalam hidup, namun jika kita melihat secara lebih mendalam, kita akan menyadari bahwa nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita jauh lebih banyak daripada sakit dan kesulitan yang kita alami.

Allah adalah Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dan Dia senantiasa memberikan berbagai nikmat kepada kita, seperti kesehatan, keluarga, persahabatan, rezeki, dan banyak lagi.

Terkadang, kita mungkin terlalu fokus pada masalah dan penderitaan yang sedang kita hadapi, sehingga melupakan segala berkah dan nikmat yang telah diberikan oleh Allah.

Aqidah adalah dasar keyakinan seorang Muslim, sebuah ikatan perjanjian dengan agamanya. Sebagai seorang Muslim, kita diingatkan bahwa fitrah kita saat lahir adalah dalam keadaan Muslim, tetapi kadang-kadang kita mungkin merasa benci terhadap hal-hal yang sebenarnya baik bagi kita, atau mencintai hal-hal yang sebenarnya merugikan kita. Allah dalam Al-Quran mengingatkan bahwa kita tidak selalu mengetahui apa yang terbaik bagi kita, dan kita harus berserah kepada-Nya.

Aqidah dalam Islam, seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah: 285, adalah fondasi keyakinan yang memuat rukun iman. Pentingnya menjaga aqidah yang lurus ditekankan karena aqidah yang benar adalah kunci menuju surga, sedangkan aqidah yang bengkok dapat membawa kita ke neraka.

Takdir, sebagaimana dipahami dalam perspektif Jabariyah dan Qadariyah, adalah konsep yang hadir dalam hidup kita. Namun, meskipun takdir ada, kita masih diharapkan untuk berusaha dan bekerja keras untuk mencapai tujuan kita. Aqidah yang kokoh harus hadir dalam diri kita di mana pun kita berada dan dalam apa pun profesi kita. Menjadi seorang sarjana yang profesional dengan Akhlakul Karimah (etika baik) dan aqidah yang kuat adalah tujuan yang harus diperjuangkan oleh setiap Muslim. Dengan demikian, kita dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai Islam dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Akhlak dalam Islam adalah perilaku dan karakter yang baik yang dianjurkan kepada setiap individu Muslim. Allah dalam Islam memiliki sifat-sifat yang sempurna, yang dikenal sebagai Asmaul Husna, yang mencerminkan sifat-sifat-Nya yang luar biasa. Sifat-sifat ini mencakup Maha Melihat (Al-Basir) dan Maha Mengetahui (Al-‘Alim). Allah memiliki sifat-sifat yang luar biasa yang tidak dapat kita bayangkan atau terjemahkan dengan sempurna dalam akal manusia. 

Namun, sebagai Muslim, kita meyakini dengan yakin bahwa Allah benar-benar ada dan Maha Mengetahui segala perbuatan kita

Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) adalah bidang dalam ilmu komputer yang berkaitan dengan pembuatan sistem komputer yang mampu melakukan tugas-tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. Tujuan utama dari AI adalah mengembangkan komputer atau mesin yang dapat berpikir, belajar, dan bertindak seperti manusia, sehingga dapat mengeksekusi tugas-tugas yang kompleks dengan kemampuan yang mendekati atau bahkan melebihi kemampuan manusia.


Sistem AI mencakup berbagai teknik dan metode yang dirancang untuk memungkinkan komputer memahami informasi, memproses data, mengenali pola, membuat keputusan, dan belajar dari pengalaman. Ada beberapa aplikasi yang bermanfaat untuk pembelajaran al-Islam dan kemuhammadiyahan dalam AI:
• ChatGPT
• SlideAI.io = membuat PPT dalam sekejap
• Meeting.ai = Transkripsi dan Membuat Kesimpulan
• Tome App = membuat PPT
• Framer = Membuat website dalam sekejap
• Connected paper = Pencarian artikel yang relevan
• Elicit = Pencarian artikel berdasarkan kata kunci

Andi Azhar, P.Hd selaku pembicara menyampaikan manfaat besar AI untuk membantu dosen melaksanakan tri dharma yaitu untuk penelitian. Kegiatan ini memberikan pencerahan untuk para dosen yang dilaksanakan pada Selasa, 15 Agustus 2023.

 

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Seminar Nasional dengan topik, “Risalah Islam Berkemajuan (RIB).”

Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Auditorium Mohammad Djazman, Rabu (31/5), menekankan pada RIB dalam dakwah dan pendidikan. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa semester 4 yang menempuh mata kuliah Kemuhammadiyahan, serta para dosen.

RIB yang merupakan hasil dari keputusan Muktamar Muhammadiyah ke -48 tersebut dijabarkan oleh tiga pemateri, yaitu Rektor UMS Prof., Dr., Sofyan Anif, M.Si, Wakil Ketua 3 Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof., Dr., Abdul Fattah Santoso, M.Ag, serta Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Dr., Fathurrahman Kamal, Lc., M.Si.

Sofyan Anif menyampaikan, ketika membahas RIB dalam konteks Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), AIK di lembaga pendidikan Muhammadiyah merupakan modal berdakwah.

Untuk dapat merespon RIB, para pemegang kebijakan di lembaga pendidikan perlu mengembangkan program atau kebijakan untuk menginternalkan nilai AIK ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Tuntutannya adalah kita harus lebih progresif, lebih dinamis termasuk program-program kita, yang tentu itu akan mempercepat mengakselerasi tujuan Muhammadiyah menciptakan atau membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, masyarakat Islam Rahmatan lil Alamin,” ungkap Sofyan Anif.

Pada bagian lain, Fattah Santoso mengungkapkan, soal AIK sebagai mata kuliah. Dia juga menyampaikan tentang tujuan pendidikan AIK. Di sisi lain, RIB menurutnya bisa dijadikan acuan untuk AIK.

“Untuk membentuk insan berkarakter, dan insan terpelajar yang diharapkan memiliki integritas dan kesadaran etis, menuju manusia berkemajuan, berjiwa pengasih dan penuh kasih,” jelasnya.

Pada sesi terakhir, Fathurrahman mengatakan bahwa di dalam Al Quran menyebutkan kata jahiliyah sebanyak 4 kali.

“RIB harus bercita-cita mengeliminir daripada 4 trend jahiliyah di dalam Al Quran,” kata Fathurrahman.

Ke empat trend tersebut adalah kerancuan epistemologi, sistem hukum dan politik yang buruk, kejahiliyahan di dalam domain tradisi sosial dan kebudayaan, serta watak kesombongan, fanatisme, rasisme. Maka untuk mengaktaulisasikan RIB, 4 diksi yang disebut oleh Allah tidak boleh ada.

Pada kesempatan lain, Ketua Majelis Tablig itu menerangkan bahwa muatan dari RIB itu bersifat universal, tidak hanya untuk warga Muhammadiyah, tapi semua umat manusia.

“Nilai-nilai yang termuat di dalam RIB itu berisi hal-hal yang fundamental. Memang ada hal hal yang sifatnya eksklusif, seperti berasaskan Al Quran dan As Sunnah dan seterusnya, saya kira itu sifatnya normatif,” katanya saat menjawab pertanyaan salah seorang peserta, tentang apakah di Indonesia bagian timur akan disampaikan mengenai RIB?.

Sehingga hal demikian yang bersifat ekslusif tidak dapat dipaksakan untuk disampaikan kepada mahasiswa yang non muslim, melainkan akan menyampaikan hal yang bersifat universal seperti toleransi, bukan pada aspek keyakinan. Hal tersebut lah yang menjadi spirit dari RIB.

Dia juga mengatakan bahwa Kris-Muha, istilah untuk penganut agama Kristen tetapi bermuhammadiyah. Mereka ini gembira dan senang dengan toleransi dan pelayanan dari Muhammadiyah, yang tidak diskriminatif, dan mereka juga rela untuk menjadi penopang kegiatan Muhammadiyah.

EDUCATIONAL TRANSFORMATION : INTEGRATION OF THE AL-QUR’AN AND SCIENCE IN THE DIGITAL ERA

In a recent webinar organized by Muhammadiyah University, August, 15 2023 scholars and experts came together to delve into the profound concept of “Tafsir Tajdid Muhammadiyah” – the interpretative renewal within the Muhammadiyah movement.
The virtual event, titled “Exploring Tafsir Tajdid Muhammadiyah: A Renewed Understanding,” brought together academics, to discuss the unique approach that Muhammadiyah has taken towards interpreting religious texts. The aim was to shed light on the movement’s perspectives, principles, and methodologies in interpreting the Quran and Hadith in the modern context.

Dr. Ainur Rhain, a renowned scholar in qur’an tafsir Studies FAI UMS, emphasized that Tafsir Tajdid Muhammadiyah is rooted in the spirit of rejuvenating Islamic teachings for contemporary challenges. “Muhammadiyah’s approach to interpretation reflects its commitment to upholding Islamic values while adapting to the evolving world,” Dr. Ainur Rhain.
Renowned scholar Dr. Nashwan Khaled (head qur’an &sunnah IIUM Malaysia) recently delivered a thought-provoking lecture on innovative approaches to Islamic education in the modern era. The virtual event, titled “Revitalizing Islamic Education: Exploring New Methods,” captivated audiences as Dr. Khaled shared his insights on the evolving landscape of teaching and learning within an Islamic framework.
During his lecture, Dr. Khaled emphasized the significance of adapting traditional methods to meet the needs of contemporary learners. He highlighted the importance of engaging students through interactive and practical methods, fostering critical thinking and a deeper understanding of Islamic teachings.
“Today’s educational environment demands a balance between preserving the rich heritage of Islamic education and embracing the tools and techniques of the digital age,” Dr. Khaled stated. He underscored that Islamic education should empower students to navigate the complexities of the modern world while upholding the values of compassion, ethics, and community responsibility.

Scroll to Top