ums.ac.id, SURAKARTA – Konsep Islam Wasathiyah adalah gagasan yang merujuk pada status umat Islam sebagai umat tengahan. Artinya, dalam menjalankan sesuatu, umat Islam hendaknya senantiasa seimbang dan selaras.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed mengungkapkan gagasan tersebut dalam tablig akbar Gema Kampus Ramadan Universitas Muhammadiyah Surakarta (GKR UMS) di Masjid Sudalmiyah Rais, UMS, Jumat (14/3/2025).

Mu’ti menyebut wasathiyah memiliki beberapa arti, yakni seimbang, adil, hingga terlihat keunggulannya. Dia mengatakan kata “wasatha” disebut 5-6 kali dalam Al-Qur’an.

“Umat Islam itu umat terbaik yang kebaikannya bisa terlihat dengan jelas,” kata Mu’ti.

Ajaran Islam, Mu’ti menjelaskan, selalu mengedepankan keindahan dan keseimbangan. Baik seimbang antara sikap rasional dan emosional, maupun seimbang bab dunia dan akhirat.

“Urusan perkara yang baik itu adalah yang tengah-tengah dan tidak ekstrem (ke salah satu sisi),” imbuh Mendikdasmen itu.

Ihwal sedekah menjadi contoh yang dikemukakan Mu’ti. Sedekah harus seimbang. Artinya tidak terlalu jor-joran dalam berderma, tapi tidak terlalu pelit untuk mengeluarkan harta.

“Ibadah itu baik, tapi kalau berlebih-lebihan dalam beribadah itu tidak baik. Sedekah ya sedekah, tapi ojo kabeh dinyohne (jangan semua diberikan),” seloroh dia.

Bahkan, konsep wasathiyah dapat ditarik ke ranah kebijakan publik dan pembuatan dasar hukum untuk masyarakat.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menyebut dalam menyusun aturan hukum, umat Islam hendaknya mengedepankan keadilan.

“Adil itu bukan berarti sama, melainkan menegakkan aturan sebagaimana mestinya,” tuturnya.

Dasar tersebut membuat umat Islam tidak boleh menetapkan hukum hanya atas dasar kesukaan maupun ketidaksukaan terhadap pihak-pihak tertentu. Mu’ti menegaskan umat Islam untuk terus mengedepankan obyektivitas dalam mengambil keputusan.

“Kalau orang itu berilmu, maka dia akan obyektif dalam mengambil keputusan,” tegasnya.

Sudah seyogyanya konsep wasathiyah Islam harus dikedepankan untuk membangun peradaban berkemajuan. Apalagi di tengah tantangan bangsa saat ini, mengedepankan konsep wasathiyah adalah keniscayaan untuk menciptakan harmoni.

“Kalau itu berhasil diwujudkan, maka Rasulullah akan bangga terhadap umatnya. Karena umatnya adalah yang terbaik,” jelasnya lebih lanjut.

Mu’ti berpesan kepada seluruh mahasiswa UMS yang hadir dalam tablig akbar untuk terus menimba ilmu. Menjadi manusia yang serba tahu akan berbagai pengetahuan dan ilmu.

“Harus banyak mencari tahu dengan cara membaca, bertanya, dan penelitian,” pungkas dia. (Gede/Humas)

Sumber: https://news.ums.ac.id/id/03/2025/abdul-muti-serukan-wasathiyah-islam-untuk-mewujudkan-peradaban-berkemajuan/

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Safari “Pengajian dan Pengarahan” Ramadan 1466 H bagi sivitas akademika. Safari Ramadan tahun ini terbagi ke dalam empat kloter yang dimulai pada tanggal 14-19 Maret 2025.

Pada kloter pertama, Jumat (14/3), pengajian dan arahan disampaikan kepada biro dan unit Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Agama Islam, Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam, dan Kemuhammadiyahan, Pesma Mas Mansyur, Lembaga Bahasa dan Ilmu Pengetahuan Umum, Pondok Shabran, Ma’had Abu Bakar, Badan Pengembangan Usaha, Biro Kerjasama dan Urusan Internasional, Biro Pengembangan SDM, Badan Perencanaan dan Pengembangan, dan Biro Humas dan Pemeringkatan.

Pada kesempatan tersebut, Rektor UMS Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., menyampaikan tentang Muhammadiyah dan Risalah Islam Berkemajuan. Rektor UMS didampingi oleh Wakil Rektor IV Prof. dr. Dr. Em Sutrisna, M.Kes, Wakil Rektor V Prof. Supriyono , S.T., M.T., Ph.D, dan Sekretaris Rektor Prof. Dr. Anam Sutopo.

Sofyan Anif menuturkan akan keunggulan Muhammadiyah apabila mengacu pada Sustainable Development Goals (SDGs) maka Muhammadiyah adalah yang nomor satu. Muhammadiyah adalah lembaga yang hampir memenuhi semua indikator SDGs.

“Dalam sejarah perjuangan bangsa kita, yang paling berada di depan itu ya Muhammadiyah, dengan berpikir secara kontekstual tidak hanya tekstual,” ujar dia.

Dengan tajdid Muhammadiyah akhirnya memberikan implikasi penjabaran yang tertulis di Al-Quran dan As-Sunnah menjadi bentuk bentuk lain seperti fikih air, fikih lingkungan, fikih wanita, dan sebagainya.

“Itu semua ada di indikator SDGs,” tegasnya.

Selanjutnya, Rektor UMS itu menerangkan tentang Risalah Islam Berkemajuan yang merupakan ideologi terakhir dari Muhammadiyah. Menurutnya ketika berbicara tentang Risalah Islam Berkemajuan, ini merupakan risalah yang sudah sejak awal Muhammadiyah berdiri.

“Risalah Islam Berkemajuan itu adalah perwujudan nilai yang ada di dalam Al-Quran dan hadis yang kemudian ditetapkan menjadi sebuah ideologi yang diyakini sebagai kebenaran,” kata dia.

Dia bercerita bagaimana ketika di zaman Rasulullah untuk menentukan 1 Ramadan dilakukan secara tekstual dengan rukyatul atau murni, namun sekarang dilakukan dengan rukyatul bil ‘ilmi artinya dengan pengetahuan yaitu hisab. Tidak hanya itu, Muhammadiyah dalam memahami Al-Quran dan hadis, Muhammadiyah sudah bukan hanya bayani tetapi juga burhani.

“Bahkan sekarang ini banyak produk-produk Muhammadiyah yang tidak hanya kontekstual tapi masuk ke irfani karena memberikan nilai yang luar biasa untuk kehidupan umat manusia,” tuturnya.

Sofyan Anif juga menyampaikan bahwa berdakwah itu tidak harus bil lisan (verbal) tetapi bisa dengan bil hal dengan melakukan tindakan terpuji.

Pada Safari Ramadan ini, Rektor UMS dan pimpinan universitas juga mengharapkan adanya masukan-masukan dari sivitas akademika demi pengembangan kampus. Setelah melalui diskusi, Rektor UMS mengindahkan masukan tersebut.

Sementara itu, Sofyan Anif menggarisbawahi juga bahwa dana beasiswa bagi dosen atau tendik untuk menempuh program doktor, setiap tahunnya tidak terserap. Dia berharap, dosen dan tendik bisa memanfaatkan dana tersebut untuk melanjutkan studi S3.

“Saya menunggu usulan bapak ibu terkait dengan studi lanjut S3, barangkali ada usulan yang lebih bagus,” kata dia. (Maysali/Humas)

Sumber: https://news.ums.ac.id/id/03/2025/safari-ramadan-ums-muhammadiyah-adalah-yang-nomor-satu/

ums.ac.id, SURAKARTA – Bulan Ramadan kembali menjadi momentum spesial Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) untuk menyebarkan pemahaman keislaman melalui Gema Kampus Ramadan (GKR). Salah satu agenda utamanya, Tabligh Akbar #2, yang digelar pada Senin malam (10/3) di Masjid Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS.

Ratusan jemaah memadati masjid selepas salat tarawih, menyimak kajian bertajuk “Tafsir Risalah Islam Berkemajuan” yang disampaikan oleh Dr. K.H. Tafsir, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.

“Malam ini saya akan membagikan salah satu hasil Muktamar Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022, yaitu dirumuskannya risalah Islam berkemajuan,” ujar Tafsir mengawali ceramahnya.

Ia menekankan, semangat Islam yang dibangun Muhammadiyah bukan hanya bersifat normatif, tetapi juga harus mampu menyesuaikan kebutuhan dan kondisi suatu zaman.

Dalam kilasan sejarah, Tafsir mengingatkan, sejatinya umat Islam dan bangsa Indonesia pernah berada dalam kondisi tertindas, miskin, dan terbelakang. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang harus diubah.

“Indonesia pernah beberapa kali dijajah. Ahmad Dahlan ingin Indonesia terbebas dari itu, belenggu kebodohan dan kemiskinan,” tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, lanjutnya, ada dua pilar utama yang harus diperkuat: pendidikan dan kesehatan. Dua hal ini merupakan kunci bagi bangsa untuk melangkah menuju kemajuan.

Namun, membangun bangsa yang maju bukanlah tugas individu semata. Tafsir menekankan, perubahan besar harus dilakukan secara kolektif. Muhammadiyah, sejak didirikan, telah mengambil peran besar dalam merumuskan kembali konsep Islam yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Risalah Islam berkemajuan kembali ditegaskan dalam Muktamar 2022. Konsep ini lahir sebagai panduan bagi umat Islam dalam menjalankan ajaran agama secara lebih progresif.

“Saya tidak akan menyampaikan seluruh isi risalah ini, tetapi saya ingin menekankan karakteristik utama dari Islam berkemajuan,” ujarnya.

Pertama, kata Tafsir, Islam berkemajuan harus berlandaskan tauhid. Islam adalah bentuk penyerahan diri kepada Allah SWT. Tauhid merupakan pondasi yang tidak boleh melemah. Lantaran, tanpa tauhid yang kuat, Islam akan kehilangan arah.

Kedua, Islam berkemajuan harus menghidupkan semangat ijtihad dan tajdid. Meskipun Islam telah final dalam ajarannya, pemahaman terhadapnya harus selalu berkembang agar relevan dengan zaman. Modernitas, teknologi, dan ilmu pengetahuan harus direspons dengan semangat inovasi, bukan dengan sikap jumud atau kolot.

Ketiga, Islam berkemajuan harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dua sumber utama ini menjadi rujukan yang tidak boleh ditinggalkan, tetapi tetap harus dipahami dalam konteks yang dinamis, meski sifatnya mutlak dan final.

Keempat, Islam berkemajuan menganut prinsip wasathiyah atau jalan tengah. Islam harus dijalankan dengan sikap moderat, berkeadilan, toleran, dan seimbang dalam setiap aspek kehidupan. Kelima, Islam berkemajuan harus mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.

“Islam hadir untuk membangun harmoni kehidupan. Jadi, tidak sepantasnya seorang muslim membuat keonaran di lingkungannya,” tandas Tafsir. Islam, menurutnya, harus menjadi cahaya bagi siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Di penghujung kajian, jemaah tampak terdiam dalam refleksi. Tafsir pun berpesan agar risalah Islam berkemajuan itu tidak sebatas dipahami, tetapi juga diamalkan bersama demi melahirkan umat yang cerdas, berdaya, dan membawa manfaat bagi sesama. (Genis/Humas)

Sumber: https://news.ums.ac.id/id/03/2025/membumikan-islam-berkemajuan-dalam-kehidupan/

ums.ac.id, SURAKARTA – Gema Kampus Ramadan (GKR) Universitas Muhammadiya Surakarta (UMS) menyemarakkan bulan suci Ramadan dengan menggelar tabligh akbar, Kamis malam (6/3) di Masjid Sudalmiyah Rais UMS.

Tabligh akbar kali ini mengangkat tema Ramadan, Masjid, dan Keunggulan Ummat yang disampaikan oleh M. Jamaludin Ahmad, S.Psi, Psikolog., selaku Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting & Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Ramadan adalah bulan untuk menggembleng muslim untuk meningkatkan ketakwaan. Amaliah Ramadan untuk membiasakan dan menempa kebaikan bisa dilakukan dengan puasa, sholat wajib dan tarawih, tadarus dan tadabbur Al-Qur’an, infaq, sadaqah, zakat, dan itikaf di 10 hari terakhir Ramadan.

Akan tetapi, dia juga menuturkan bahwa yang susah dan sering dilupakan adalah membiasakan diri berpikir, berkata, bersikap, dan berperilaku yang baik, membentuk akhlak mulia.

“Ini sering dilupakan, karena puasa yang hebat itu menjadi tidak bermakna kalau ini tidak dilakukan. Ini tidak disebut amaliah Ramadan padahal ini penentu nilai kita apakah puasa menghasilkan lapar dan dahaga atau bernilai di mata Allah,” ujarnya.

Perlu juga memaksa agar lama lama menjadi biasa. Ramadan menempa kita, suka atau tidak suka untuk terbiasa dengan hal baik.

“Lebih baik terpaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka,” tuturnya mengikuti perkataan ulama lain.

Ramadan akan mendatangkan serba kebaikan dan manfaat.

Selain menyampaikan amaliah Ramadan dan keutamaan bulan Ramadan, Jamaludin juga menyampaikan tentang pentingnya memakmurkan masjid. Di antara banyaknya kebaikan di bulan Ramadan itu berawal dari masjid.

“Maksud lain dari Ramadan, Allah mengajak kita untuk memakmurkan masjid,” kata Jamaludin.

Dengan memakmurkan masjid akan menjadikan makmur jamaahnya, makmur kegiatannya, makmur dananya, dan kemakmuran lainnya.

Di akhir tabligh akbar tersebut, Ketua LPCRPM itu juga mengajak jamaah tabligh akbar untuk menggemakan yel-yel ‘apapun masalahnya, masjid solusinya’. (Maysali/Humas)

Sumber : https://news.ums.ac.id/id/03/2025/gkr-ums-gemakan-amaliah-ramadan-dan-makmurkan-masjid/

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan penuh antusias menyambut bulan suci Ramadan 1446 H. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, sivitas akademika UMS melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS, pada malam pertama Ramadan, Jumat (28/02).

Shalat Tarawih ini diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa UMS yang bersama-sama menyambut bulan penuh berkah dengan khusyuk. Ibadah ini tidak hanya mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat ukhuwah Islamiyah di kalangan sivitas akademika UMS.

Setelah shalat Tarawih berjamaah, acara dilanjutkan dengan Grand Opening Gema Kampus Ramadan 1446 H yang mengusung tema “Implementasi Nilai Keislaman sebagai Pilar Kampus Berkemajuan.” Tema ini mencerminkan komitmen UMS dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan kampus, baik akademik maupun spiritual.

Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., dalam sambutannya mengungkapkan, Ramadan adalah momen penuh berkah yang tidak hanya untuk berpuasa, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan meningkatkan kepedulian sosial.

“UMS sebagai kampus yang berkomitmen pada nilai-nilai keislaman, selalu berupaya menciptakan atmosfer yang mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus spiritualitas.” ujar Rektor UMS itu.

Lebih lanjut, Sofyan juga mengatakan bahwa kuliah di UMS tidak hanya berfokus pada kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan spiritualitas. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan akademik dan ketakwaan, serta menyatakan bahwa bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat keduanya.

“Kuliah di UMS bukan hanya tentang kompetensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tetapi juga spiritualitas. Kemudian untuk menjadi pribadi sukses dan berintegritas, seseorang tidak hanya membutuhkan kecerdasan akademik, tetapi juga ketakwaan yang mendalam. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat keduanya.” imbuhnya

UMS melalui kegiatan Gema Kampus Ramadan berkomitmen untuk menciptakan atmosfer berkah dan memperkuat spiritualitas civitas akademika, serta mengajak semua individu untuk memperbanyak amal ibadah dan meningkatkan ketaqwaan selama bulan Ramadan.

“Dengan semangat kebersamaan, UMS berharap setiap langkah yang diambil membawa manfaat dan keberkahan bagi umat Islam di kampus dan di luar kampus,” pungkasnya. (Al/Humas)

Sumber: https://news.ums.ac.id/id/03/2025/gema-kampus-ramadan-1446-h-ums-perkuat-nilai-keislaman-sebagai-pilar-kampus-berkemajuan/

Surakarta, 26 Februari 2025 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menggelar Baitul Arqam 2 (Ibadah dan Muamalah) Kloter 5 yang berlangsung selama empat hari di Masjid Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS. Kegiatan ini dibuka dengan kuliah umum oleh Sekretaris Rektor Biro Rektorat UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum.

Dalam pemaparannya, Prof. Anam menekankan bahwa disiplin dalam ibadah adalah kunci utama dalam meraih kesuksesan. “Orang yang yakin dan percaya diri pada cita-citanya akan mencapainya, tetapi harus diiringi dengan ibadah dan usaha,” ungkapnya.

Salah satu kunci dalam meraih kesuksesan, lanjutnya, adalah disiplin dalam beribadah. Tertib menjalankan ibadah memberikan berbagai manfaat, seperti meningkatkan percaya diri, kedisiplinan, menghargai waktu, membentuk karakter, serta melatih manajemen yang baik. Selain itu, ibadah juga dapat meningkatkan komitmen, serta menumbuhkan sikap sabar, tawakal, dan ikhlas.

“Dari berbagai manfaat tersebut, tumpuan utama kita adalah iman. Hanya orang-orang yang berimanlah yang benar-benar beruntung,” tegasnya.

Beliau juga menjelaskan keterkaitan antara tertib ibadah, iman, ilmu, dan kesuksesan dalam sebuah alur sederhana:

Tertib Ibadah → Menguatkan Iman
Iman → Mendorong semangat Berilmu
Iman & Ilmu → Mengantarkan pada Sukses Masa Depan

Menurutnya, hanya dengan iman yang kokoh dan ilmu yang bermanfaat, seseorang dapat meraih masa depan yang gemilang. Oleh karena itu, Baitul Arqam menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk memperkuat spiritualitas serta membentuk karakter Islami yang disiplin dan berkomitmen.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa UMS semakin memahami pentingnya tertib ibadah sebagai fondasi utama dalam meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

Surakarta, 22 Februari 2025 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Baitul Arqam 2 (Ibadah dan Muamalah) Kloter 4 selama empat hari di Masjid Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan pengamalan ibadah serta muamalah Islami.

Pembukaan dilakukan dengan kuliah umum oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan UMS, Bapak Noor Alis Setiyadi, S.KM., M.K.M., Ph.D., dengan tema “Tertib Ibadah Menjadi Sukses di Masa Depan.” Beliau menekankan pentingnya konsistensi dalam ibadah, khususnya shalat khusyuk dan tertib sebagai kunci sukses dunia akhirat, merujuk pada QS. Al-Mu’minun: 1-2.

Selain itu, dibahas juga ketakwaan sebagai kunci kemudahan hidup (QS. At-Talaq: 2-3) serta prinsip muamalah Islami dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa, yang aktif dalam diskusi dan praktik ibadah.

Baitul Arqam 2 diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul akademik, tetapi juga memiliki keimanan dan ketakwaan yang kokoh, menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Islam di berbagai aspek kehidupan.

Sebagai generasi penerus, mahasiswa diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam Baitul Arqam ini untuk membangun karakter yang disiplin, bertanggung jawab, dan berintegritas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami esensi ibadah dan muamalah, mereka dapat menjadi individu yang sukses, tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan berkarier di masa depan.

Surakarta, 18 Februari 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok, al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyelenggarakan Baitul Arqam bagi mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari di Masjid Sudalmiyah Rais ini diawali dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Wakil Rektor 1 UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, S.E., M.Hum.

Dalam kuliah umumnya, Prof. Harun Joko Prayitno menekankan pentingnya perkataan yang baik sebagai bagian dari sedekah. Beliau mengutip hadis Rasulullah:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Berkata yang baik adalah sedekah.”
(HR Bukhari) Beliau mengutip sebuah hadis Rasulullah yang menegaskan bahwa setiap kata yang diucapkan harus mengandung kebaikan dan kesopanan. “Ketika berbicara dengan orang lain, gunakanlah perkataan yang baik dan sopan, karena itu adalah bagian dari sedekah,” ujarnya.

Prof. Harun juga menguraikan tiga prinsip utama dalam berbicara yang santun:

  1. Maksim Kesimpatian – Setiap perkataan harus memperhatikan perasaan dan kondisi lawan bicara agar komunikasi lebih efektif dan bermakna.
  2. Maksim Kerendahhatian – Hendaknya seseorang tidak berbicara dengan nada sombong, melainkan menunjukkan sikap rendah hati.
  3. Maksim Kemurahatian – Memberikan dorongan dan motivasi kepada orang lain dalam kebaikan, sebab mereka yang mengajak kebaikan akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang diajak.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Harun juga mengingatkan tentang pentingnya amal perbuatan yang dilakukan seseorang. “Sesungguhnya amal kita adalah untuk diri kita sendiri, maka lakukanlah dengan ikhlas dan hanya karena Allah,” tambahnya. Beliau juga menegaskan larangan menyekutukan Allah serta kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. “Jika orang tua sudah menjadi tanggungan kita, maka rawatlah mereka dengan baik dan jangan pernah menyepelekan mereka, bahkan dengan sekadar mengucapkan kata ‘ah’,” pesannya.

Kegiatan Baitul Arqam ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai Islam serta memperkuat karakter Islami mereka. Dengan mengikuti kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi pribadi yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam dan prinsip Kemuhammadiyahan.

Surakarta, 15 Februari 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah sukses menyelenggarakan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) Periode ke-42pada hari Sabtu, 15 Februari 2025. Acara yang berlangsung di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais, Kampus 2 UMS ini dimulai pukul 04.30 hingga 14.30 WIB, diikuti oleh 762 peserta.

Kegiatan diawali dengan sholat sunnah dan sholat subuh berjamaah, yang menjadi pembuka bagi rangkaian acara yang dihadiri oleh seluruh peserta. Sesi pertama dibuka dengan materi mengenai Kepemimpinan Spiritual yang disampaikan oleh Rektor UMS, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. Dalam penyampaiannya, Prof. Sofyan menekankan pentingnya aspek spiritual dalam kepemimpinan seorang sarjana, serta bagaimana mereka dapat memimpin dengan hati yang tulus dan penuh integritas.

Pada sesi kedua, Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes., memberikan materi bertajuk Karakter Sarjana Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, beliau menekankan bahwa setiap sarjana Muhammadiyah harus mengedepankan nilai-nilai akhlak Islam dan berperan aktif dalam dakwah serta membangun peradaban yang lebih baik.

Setelah sesi kedua, peserta diberi waktu istirahat selama satu jam sebelum melanjutkan ke sesi ketiga. Dalam sesi ini, Kasubid Baitul Arqam, Bapak Suwinarno, M.P.I., memaparkan Prinsip-Prinsip Ibadah Menurut Manhaj Tarjih, memberikan wawasan lebih dalam mengenai pentingnya pengamalan ibadah yang sesuai dengan ajaran Muhammadiyah.

Sesi keempat diisi oleh Wakil Rektor III UMS, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., yang memberikan materi mengenai Persiapan Berkarir Pasca Studi. Dalam sesi ini, Prof. Ihwan memberikan panduan dan kiat-kiat penting bagi para peserta untuk memasuki dunia kerja dengan kesiapan yang matang, baik dari segi akademis maupun keterampilan pribadi.

Sesi terakhir disampaikan oleh Kepala LPPIK UMS, Bapak Dr. Imron Rosyadi, M.Ag., yang membahas Aqidah dan Akhlak dalam Islam. Materi ini bertujuan untuk mengingatkan kembali peserta tentang pentingnya menjaga iman dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun dalam peran mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Sepanjang acara, peserta diwajibkan untuk melaksanakan sholat berjamaah, meresume materi yang telah disampaikan, serta menaati peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia. BAPS Periode ke-41 ini merupakan bagian dari komitmen UMS untuk mempersiapkan para lulusannya menjadi sarjana yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik, tetapi juga unggul dalam karakter dan kepemimpinan yang berbasis pada nilai-nilai spiritual dan akhlak Islam.

Dengan berakhirnya acara ini, para peserta diharapkan dapat membawa bekal ilmu dan pemahaman yang lebih mendalam untuk menghadapi tantangan pasca studi dan berperan dalam masyarakat sebagai agen perubahan yang berkualitas.

Surakarta, 11 Februari 2025 – Lembaga Pengembangan Pondok Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah melaksanakan Audit Mutu Internal (AMI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Jaminan Mutu (LJM) UMS pada Senin, 10 Februari 2025. Audit ini bertujuan untuk memastikan efektivitas sistem manajemen mutu serta meningkatkan kinerja lembaga dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Audit Mutu Internal kali ini dilakukan oleh dua auditor dari LJM, yaitu Bapak Heru Supriyono, S.T., M.Sc., Ph.D., dan Ibu Dr. Etika Muslimah, S.T., M.M., M.T. Mereka melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek di LPPIK, termasuk tata kelola, implementasi program, serta kepatuhan terhadap standar mutu yang telah ditetapkan oleh UMS.

Dalam proses audit, tim LPPIK menyampaikan berbagai capaian dan upaya pengembangan yang telah dilakukan selama periode sebelumnya. Auditor memberikan apresiasi atas kinerja LPPIK dalam menjalankan tugasnya, sekaligus menyampaikan beberapa rekomendasi untuk peningkatan mutu ke depan.

Dengan terlaksananya Audit Mutu Internal ini, diharapkan LPPIK dapat terus meningkatkan kualitas layanan dan memberikan kontribusi yang lebih baik dalam pengembangan keislaman dan kemuhammadiyahan di lingkungan UMS.

Scroll to Top